Aku ingin menjala ombak
Sebab arus yang sesak
ada hempasan aroma ibu memasak
Aku ingin menjala ombak
Sebab ada bayang ayah dan sampan yang kabarnya belum retak.
Aku ingin menjala ombak
Dan puisi yang belum sempat terungkap
Selasa, 30 Mei 2017
Minggu, 01 Januari 2017
reinkarnasi puisi pertemuan mahasiswa
kutitipkan
Sederet barisan reinkarnasi puisi pertemuan mahasiswa mu
rendra..
Sungguh Anak tani menaruh harapan saat duduk di kursi
perkuliahan
Kini ia temui kesesatan pendidikan dari domba-domba menanam
penderitaan
Anak buruh tak mampu bayar semesteran
Domba-domba berseru:selamat datang di universitas sirkuitnya
perlombaan
Kekayaan, pakaian, kerdilnya pemikiran dan kepatuhan
Adalah syarat masuk perhelatan
Di catwalk Pendidikan berjalan yang tak lagi memanusiakan
muslihat tetorial
menumpuk kekayaan yang harus di gaungkan
Demikianlah kini wajah universitas
Di zaman perdagangan bebas tanpa batas..
Garang mukamu pada masa itu
Kau berseru
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
lantas kini pendidik menjawab
mahasiswa didik untuk jadi pemerintahan yang bobrok dan jadi
pekerja perusahaan
yang kerjanya merampas tanah dan menghisap tenaga manusia
tanpa rasa keadilan
ilmu ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
para kawanan dosen menjawab
ilmu tindas-menindas
ala adam smith yang kami ajarkan
moral liberalisme Destutt de Tracy yang kami budayakan
agar kelak mahasiswa memakai jas
siap menindas
dan melayani penindas..
gigil malam ini
ingin ku berbisik padamu rendra..
telah tumbuh percikan api amarah
kesadaranya tak bisa di lipat seperti diktat
dan perlawanannya tak
akan pudar
dihadapan fasisnya mereka tak gentar
Jumat, 11 November 2016
Sketsa kampung
Seorang anak perempuan pulang dari kebun.tampak kejahuan lorong belukar di tepi gunung
ia mengendong saloi penuh sayur dan singkong.Menuju rumah waktu grimis mengikis pasir putih.Ia hilang di antara puluhan kepala bunyi kaki menyisir pasir yang berlarian di ujung tanjung kampung sana.Aroma cakalang kuah kuning mengepul di hidungku, jejak anak saloi itu pun hilang satu-satu.Ku berlari menuju ketinggian batu memandang wajahku di atas laut biru dan mendengar ombak berdendang.Terdengar Seorang bapak tua memanggil ku :"Nyong mari do, bantu beta tarik sampan".
ia mengendong saloi penuh sayur dan singkong.Menuju rumah waktu grimis mengikis pasir putih.Ia hilang di antara puluhan kepala bunyi kaki menyisir pasir yang berlarian di ujung tanjung kampung sana.Aroma cakalang kuah kuning mengepul di hidungku, jejak anak saloi itu pun hilang satu-satu.Ku berlari menuju ketinggian batu memandang wajahku di atas laut biru dan mendengar ombak berdendang.Terdengar Seorang bapak tua memanggil ku :"Nyong mari do, bantu beta tarik sampan".
Kamis, 10 November 2016
Sketsa di jalan
Langkah kaki ku beku
Kabut gigil dingin tulang
menuju pulang
menatap langit ada bintang
Di peluk erat fajar.
kejahuan siluet seorang ibu tua mendayuh sepeda ontel
menuju pasar.
ia melaju..
ia melaju..
hilang.
walaupun berat sepeda singkong sekarung
kaki dan tangannya kuat erat .
Dan aku termenung di tepi kehidupan yang sekarat melarat.
Kabut gigil dingin tulang
menuju pulang
menatap langit ada bintang
Di peluk erat fajar.
kejahuan siluet seorang ibu tua mendayuh sepeda ontel
menuju pasar.
ia melaju..
ia melaju..
hilang.
walaupun berat sepeda singkong sekarung
kaki dan tangannya kuat erat .
Dan aku termenung di tepi kehidupan yang sekarat melarat.
Kamis, 06 Oktober 2016
Rindu Beta I Kepada kawan di cianjur
kepada kawan beta ingin berkata
Mantra sunda berkati kaki melangkah
jamahi dinginnya tanah cianjur yang jujur
babad kata-kata di teras rumah penuh lentera
hujan bernyanyi deras
diskusi manusia ingin damai meraja
sebab bara api durhaka kini jarah ladang bersahaja
kawan, angkot merah ada wajah che Guevara
melodi hidup di malam itu bangunkan semesta
kulihat wajah kawan amarah merambah tiada tara
atas mereka yang serakah di atas tanah sunda
oh... cianjur yang jujur..
rindu beta tak terukur,,
Yogya, 7 oktober 2016.
Sabtu, 27 Agustus 2016
Lagu Dandelion
Seperti setangkai dandelion di musim semi.aku dan kamu menyatu untuk terpisah di petualangan sepi.Memancar putih dan lembutnya tiap helai kita kepada para mahluk yang memaksa nafas di ladang gersang. ketika angin reda, matahari tampak merona.rasanya kita berharap akar dari kita akan tumbuh kembali.. dan mekar lagi.ketika musim gugur tiba, angin memancar kencang saatnya kita menelan kejayaan di ketinggian langit, atau hanya melayang di seputaran bukit.kawanan burung cendrawasih sering bergurau:inilah kenyataan kehidupan, tidak terlalu banyak sorga diluar.kepakan sayap jika kau bersayap.Mainkan angin kencang.. rasalah dingin dan panas biar tak tergilas nafsu pnuh amarah sepintas. Seperti semesta keluhkan rumah kaca tinggi menjulang yang menghalangi rindu kita tuk bersua di dunia.
Suatu Pagi, Petengahan Tahun 2016.
Jumat, 26 Agustus 2016
Iant Noodle :"Percakapan Ibu dan Nawa"
menurut ibu ? kata nawa kepada ibunya.
kalau ibu itu terserah pilihan mu wa.. biar jangan sampai suatu saat kamu menyesalai dengan apa yang kamu lakukan ? berani bertanggung jawab nawa, itu harapan ibu..
pernah alm. ayah mengatakan kepadaku, "jika engakau melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, maka jalan mu akan selalu dipermudah. walapun, setiap perjalanan pasti ada hambatan, namu engkau selalu mendapat jalan keluarnya" kata nawa kepada ibunya.
iya wa.. ibu berharap engkau selalu menulis, menulis hingga di balik awan, menulis hingga dibalik batu, menulis hingga jari-jemari mu penuh dengan luka. ayah mu senang terhadap orang yang menulis. ibu merasa jika ayah mu masih hidup, dia akan bahagia membaca tulisan mu.
"apakah ibu juga berbahagia terhadap ku ?" ibu sangat berbahagia terhadap mu, rasa ibu yang satu itu, ada semenjak ibu mengandung mu nawa.. mungkin hingga ibu menutup mata, ibu selalu menyayangi mu.
bagaiman dengan pohon cengkeh dan pala kita ibu ? apakah ibu akan lakukan sama persis seperti yang dilakuka orang-orang ibu ? "itu adalah harta peninggalan satu-satunya alm. ayah mu, biarpun ibu tidak makan seharian, seminggu, atau pun berbulan-bulan, ibu tidak akan menjualnya. kelak nanti anak cucu mu juga berbangga, jika kita (turunan) juga memiliki pohon keremat itu."
terima kasih ibu, engkau sudah melakukan hal yang menurut ku, aku sendiri tidak bisa melakukannya. begitu lah nak, kadang engkau harus melepas hal duniawi untuk hal yang paling engkau sayang. ibu berharap, engkau dapat menulis dengan melihat segala keterbatasan kekurangan manusia lainnya, manusia itu memiliki rasa yung rumit, logika yang kadang terbalik dan tingkah yang kadang kalau dilihat dengan nalar maka ia bagaikan salju ditengah-tengah gurun.
"begitulah nak, jaga dirimu.. jangan lupa kabari ibu jika sudah sampai ke aceh. ibu sangat merindukan mu." ketika itu komunikasi terputus, henphone nawa sudah tidak dapat menerima sinyal, sebab nawa sudah berada lautan lepas.
Ternate, 25 agutus 2016.
Langganan:
Postingan (Atom)




