Senin, 16 Mei 2016

duri di atas tanah lapang


Pada waktunya ku berlari
melepas kota yang menerkam matahari
dimana debu dan kau
jadi api bakar diri

sekali lagi sudah saatnya ku berlari
menuju mati dan kau ku nanti

 kota hanyalah kisah entah kemana
memangsa kampung dan tanjung di ujung sana
rumah menjulang tinggi
tembok/kaca berhamburan
adalah jurang yang garang
bagi orang ramah perindu jalan pulang

tak ku temui tongkat kayu 
pemasang kehidupan tengah kegelapan
diantara kau dan kota selamanya berpasang

selagi muda..
ingin ku kubur cerita di pulau sana
lepaslah sudah duri  di atas tanah lapang
lepas sudah bara di atas sampan..

dan ku tarik tali sampan
kibarkan layar
memandang biru samudera rasa
angin barat tiba
ku semai cengkeh di ladang
merasa hutan merajut angan
abadi tanpa cerita derita kau dan kota... 

Yogyakarta, 16/april/2016.


Sabtu, 07 Mei 2016

Mama

















Pada senja yang karam
tersipu angin dari timur
mama pasang polo badan

setelah lama beta jauh

doa hangat antarkan rahmat:
mama dalam pelukan beta.

idra/05/2016

Jumat, 06 Mei 2016

Jalan













Maka redup suda matahari
mati dan hidup kenang rasa
jejak langkah sang lelaki

Sabtu, 02 April 2016

Bisu














Dalam bisu yang meraja
Aku ingin berkata pada dosen dan mahasiswa
Petani tak butuh teori di mulut bengis mu itu
Jika analisis bisnis yang menghamba pada sistem kapitalis melulu

Dalam bisu yang terpenjara
Aku ingin berkata banyak petani kehilangan tanah
Buruh tani nasipnya makin sengsara
Dan banyak yang mati di atas ladang tanamannya

Bukan menjadi cerita usang sejarah
Yang di jelaskan kelas kuliah
 berulang-ulang tanpa perlawanan!

Dalam bisu yang membisu
Aku ingin berteriak di setiap telinga
Jika pengetahuan yang di bangun
Mengurung realitas alam dan manusia
Masa depan anak cucu bumi
Tak secerah merah lipstikmu
Dan klimis rambutmu

Dan Dalam Bisu
menusuk ingatan, dunia tak lagi aman dan nyaman
kebenaran tak bisa disamarkan
dalil ilmiah dan obyektif tanpa keberpihakan
harus dihapuskan:jika tidak kampus hanyalah tempat
tukang  kuburan peradaban



Idra, April 2016

Jumat, 26 Februari 2016

Waktu Bulan Pakai Payung












Pada  suatu malam
aku menjemputmu keluar dari rumah tua
bersama dotu-dotu menari ronggeng..

waktu bulan pakai payung
berlarilah kita di tepi pantai
tak tau arah yang dituju
terbuai akan alunan tifa menggema
bersuka bawakan nada suling bambu
memeluk hasrat merdu gambus lalu merapikannya
di bawah sinar bulan beralaskan bintang laut

sesaat di penghujung pulau
kau bersedih menatap
tanjung dan gunung yang terbelah
kau pun merontah
seperti  cakalang dan bia
memberi ratapan
pada laut arafura yang kini hilang mantra


26/02/15

Rabu, 13 Januari 2016

Pisang coe doa selamat juga tidak apa-apa



Bagi orang lain hari ulang tahun itu hal yang sacral dan cetar membahana.Tak lupa kue dan lilin adalah penambah nilai magis.Di dalam keluarga saya jangan harap momen itu ada nyanyian “Selamat Ulang Tahun..”, imposibel.
Ketika dirumah saya sangat suka sama kue “Pisang Coe”.Kawan e,tidak bisa digambarkan dengan kata-kata pisang coy punya enak… kalo mama campur pisang dengan tarigu sambil mengulas air mata di pipi.
Selama hari lahir saya, saya hanya ingat ketika usia saya masuk 15 tahun.Seperti biasa pada malamnya saya, 13 januari tidak ada ucapan ataupun hadiah.
“mama, mau buat pisang coe”,Kata Mama ke tiga anaknya.
“iyo.. ma, bikin nanti beta bantu kupas pisang”,Seru saya.
“Mari suda..” ajak mama sambil berjalan ke dapur.
Ketika di dapur saya langsung keluarkan pisang dari karung dan mengupasnya.
“Tidak usah id.., biar mama kupas.. id dudu sama ade-ade di muka saja”, perintah mama saya kemabali ke ruang tengah bersama adik-adik saya.
Tapi hati saya tidak tenang, karena sudah biasa ketika mama masak di dapur pasti saya temani walaupun hanya kerjaannya tiup api yang mati di tungku kayu.
Saya pun kembali ke dapur.Aneh, kok tiba-tiba ada suara tangisan.
“id e… mama dengan papa ini susah jadi ose ulang tahun malam ini, mama deng papa seng bisa kase ose apa setiap ose ulang tahun”.Ucap mama sambil mengaduk pisang dan tepung terigu.


Saya pun tak tahan menahan air mata.Memulaknya dan berkata..
“iyo mama…, id lagi seng minta apa-apa kaya ana-ana lain yang dorang punya orang tua mampu”.
Tak lama kemudian bapak saya yang baru pulang sembahyang, dikasih tau sama adik perempuan saya kalau mama bersedih karena hari ini saya ulang tahun.
“Pisang coe dengan doa selamat juga tidak apa-apa e…”
Teriak Bapak saya dari ruang tengah….
Dan kami sekeluarga tertawa sambil menikmati pisang coe…
Dan tidak ada kata selamat.Hanya ada doa selamat.******