Sabtu, 02 April 2016

Bisu














Dalam bisu yang meraja
Aku ingin berkata pada dosen dan mahasiswa
Petani tak butuh teori di mulut bengis mu itu
Jika analisis bisnis yang menghamba pada sistem kapitalis melulu

Dalam bisu yang terpenjara
Aku ingin berkata banyak petani kehilangan tanah
Buruh tani nasipnya makin sengsara
Dan banyak yang mati di atas ladang tanamannya

Bukan menjadi cerita usang sejarah
Yang di jelaskan kelas kuliah
 berulang-ulang tanpa perlawanan!

Dalam bisu yang membisu
Aku ingin berteriak di setiap telinga
Jika pengetahuan yang di bangun
Mengurung realitas alam dan manusia
Masa depan anak cucu bumi
Tak secerah merah lipstikmu
Dan klimis rambutmu

Dan Dalam Bisu
menusuk ingatan, dunia tak lagi aman dan nyaman
kebenaran tak bisa disamarkan
dalil ilmiah dan obyektif tanpa keberpihakan
harus dihapuskan:jika tidak kampus hanyalah tempat
tukang  kuburan peradaban



Idra, April 2016

Jumat, 26 Februari 2016

Waktu Bulan Pakai Payung












Pada  suatu malam
aku menjemputmu keluar dari rumah tua
bersama dotu-dotu menari ronggeng..

waktu bulan pakai payung
berlarilah kita di tepi pantai
tak tau arah yang dituju
terbuai akan alunan tifa menggema
bersuka bawakan nada suling bambu
memeluk hasrat merdu gambus lalu merapikannya
di bawah sinar bulan beralaskan bintang laut

sesaat di penghujung pulau
kau bersedih menatap
tanjung dan gunung yang terbelah
kau pun merontah
seperti  cakalang dan bia
memberi ratapan
pada laut arafura yang kini hilang mantra


26/02/15

Rabu, 13 Januari 2016

Pisang coe doa selamat juga tidak apa-apa



Bagi orang lain hari ulang tahun itu hal yang sacral dan cetar membahana.Tak lupa kue dan lilin adalah penambah nilai magis.Di dalam keluarga saya jangan harap momen itu ada nyanyian “Selamat Ulang Tahun..”, imposibel.
Ketika dirumah saya sangat suka sama kue “Pisang Coe”.Kawan e,tidak bisa digambarkan dengan kata-kata pisang coy punya enak… kalo mama campur pisang dengan tarigu sambil mengulas air mata di pipi.
Selama hari lahir saya, saya hanya ingat ketika usia saya masuk 15 tahun.Seperti biasa pada malamnya saya, 13 januari tidak ada ucapan ataupun hadiah.
“mama, mau buat pisang coe”,Kata Mama ke tiga anaknya.
“iyo.. ma, bikin nanti beta bantu kupas pisang”,Seru saya.
“Mari suda..” ajak mama sambil berjalan ke dapur.
Ketika di dapur saya langsung keluarkan pisang dari karung dan mengupasnya.
“Tidak usah id.., biar mama kupas.. id dudu sama ade-ade di muka saja”, perintah mama saya kemabali ke ruang tengah bersama adik-adik saya.
Tapi hati saya tidak tenang, karena sudah biasa ketika mama masak di dapur pasti saya temani walaupun hanya kerjaannya tiup api yang mati di tungku kayu.
Saya pun kembali ke dapur.Aneh, kok tiba-tiba ada suara tangisan.
“id e… mama dengan papa ini susah jadi ose ulang tahun malam ini, mama deng papa seng bisa kase ose apa setiap ose ulang tahun”.Ucap mama sambil mengaduk pisang dan tepung terigu.


Saya pun tak tahan menahan air mata.Memulaknya dan berkata..
“iyo mama…, id lagi seng minta apa-apa kaya ana-ana lain yang dorang punya orang tua mampu”.
Tak lama kemudian bapak saya yang baru pulang sembahyang, dikasih tau sama adik perempuan saya kalau mama bersedih karena hari ini saya ulang tahun.
“Pisang coe dengan doa selamat juga tidak apa-apa e…”
Teriak Bapak saya dari ruang tengah….
Dan kami sekeluarga tertawa sambil menikmati pisang coe…
Dan tidak ada kata selamat.Hanya ada doa selamat.******
 
 

Senin, 02 November 2015

Rasisme Terhadap “Wong Timur”

          




    Masih tertancap matang di kepala saya, beberapa minggu yang lalu, saya ‘Wong Timur’ di rasis habis-habisan di kota Yogyakarta  yang ‘Berbudaya’ Ini.Jumat, (7/8/2015) malam sekitar pukul 21.00, terjadi penganiyaan di depan salah satu kampus swasta di jalan Timoho, Gondukusuman, Daerah Istimewah Yogyakarta.Tersangkanya seorang Mahasiswa bernama Anis, yang berasal dari Papua, dan korban M.Firza (20).Dari kasus yang menewaskan M.Firza inilah, saya dan kawan-kawan yang di kelompokan dengan dua kata:’Wong Timur’, terbawa perasaan was-was karena takut dengan berbagai ancaman yang di sebar dengan via Media Sosial sehingga, dalam beraktivitas pun berjalan  dengan pikiran yang tertekan.


      Setelah kejadian itu hp saya berdering tanda dua pesan masuk secara bersamaan, yang isinya sebuah himbauan untuk saya dan teman-teman agar berhati-hati, karena ada ancaman penyisiran ‘Wong Timur’.’’Kawan-kawan, diharapkan dalam beberapa waktu kedepan ini jangan ada yang keluar malam.Ormas dan warga Yogya sedang adakan  razia karena tadi ada bentrokan antara mahasiswa papua dan warga yogya, di depan kampus **MD (Red).Takutnya kawa-kawan jadi salah sasaran.Sebarkan... Salam Manis!”.Pesan ini dikirim oleh teman saya bernama Novet (Halmahera Utara), dan Sahman (Pulau Morotai).Saya pun bergegas menanyakan kronologis kejadian pada beberapa teman yang alamatnya tidak jau dari TKP.Jawaban mereka sama yang di beritakan pada beberapa media online sesaat kejadian itu terjadi.Pukul 23.00 (WIB), saya langsung menghampiri kos-kosan dan kontrakan saudara-saudara saya yang berasal dari Kepulauan Sula, untuk memberitau pesan tersebut.Setibanya di kontrakan salah satu saudara saya bernama Rifandi Pauwah, ketika mengetok pintu, di dalam rumah ada yang teriak:”Buat kode”.Entah kode apa yang di maksud.Saya pun membalasnya dengan:”Ini beta, Idra”.Dibukalah pintunya, dan saya masuk.”Kalo masuk, beri kode.Keadaan mencekam seperti ini kita harus hati-hati, jangan sampai ada penyerangan di kontrakan”, kata Rifandi kepada saya.Singkatnya mereka sudah tau berita itu, dan saya lanjut ke kos-kosan dan kontrakan saudara saya yang lain.
                                                                        ***

        Berselang beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal Jumat, (14/08), beredar kembali di media sosial bahwa, ada bentrokan antara Mahasiswa Papua dan Warga Yogya, di depan Hotel New Shapir, Jl.Laksada Adisucipto, Gondokusuman, Demangan, Daerah Istimewa Yogyakarta.Dengan foto-foto yang mengambarkan suasana yang lagi memanas, sontak hal tersebut membuat rasisme makin marajalela.Ada seorang pengguna Twetter berinisial LJ berkicau:” Sultan hrs turun tangan ne orang timur bikin kerusuhan lagi,jogja ini kota pelajar disi bukan cari kerusahan tapi cari ilmu.Lebih baik usir #Timoho”, lontarnya dan di balas pengikut akunnya dengan kalimat-kalimat Diskriminatif terhadap ‘Wong Timur’.Padahal banyak yang tidak lihat apa yang terjadi di lapangan, yang terjadi pada hari itu adalah aksi penolakan Pembangunan Bandara, oleh para petani dari Kab.Kulon Progo, yang melakukan aksinya di Jl.Malioboro, Titik 0 (Nol) kilometer, DIY.

    Kasus penganiayaan yang menewaskan M Firza (20) di atas, mengingatkan saya pada pengroyokan terhadap saudara saya Alm.Zulfikar Majid yang pelakunya pengamen ,pada Jum'at, 15 Agustus 2014 yang lalu,sekitar pukul 22.00 WIB.Kronoligisnya, berawal dari Alm.Zulfikar bersama kawan-kawannya yang berasal dari Halmahera Tengah berencana mengadakan penggalagan dana berupa pentas budaya di Taman Batik, Jl.Malioboro, Kawasan Nol KM, DIY,  untuk kegiatan Malam Keakraban oraganisasi daerah mereka.Sesampainya di jalan Malioboro, mereka mangkal di depan Monumen Serangan 1 Maret, menunggu kawan-kawan mereka yang belum tiba.Mereka yang duduk santai, di hampiri empat orang pengamen.Asrul, salah satu kawan Alm.Zulfikar memberi tanda maaf kepada pengamen bahwa mereka tidak ada uang.Para pengamen tidak menggubris, mereka tetap bernayanyi.Tak terima tidak di beri uang, salah seorang pengamen langsung membentak:”Seribu aja”.Asrul langsung membalas:”Kalian pengamen atau preman, kami benar-benar tidak ada duit”.Kata asrul.Salah satu pengemen langsung menarik- kerah bajunya.Alm.Fikar yang tak terima dengan perlakuan pengamen, langsung melerai dan adu mulut pun terjadi dan berujung pada pengroyokan terhadap Alm.Fikar dan Asrul.Singkatnya, Asrul selamat dalam kejadian itu dan Fikar tewas selang beberapa hari kemudian.Yang anehnya, seorang pengamen berteriak:”Wong Jogja e..”, (Bermaksud, memanggil massa untuk mengkroyok Fikar dan Kawan).
Kronologis ini saya di beritahu langsung oleh Asrul.
  
   Setelah pengroyakan itu saya juga ikut dalam pengwalan persidangan di Pengadilan Tinggi Negiri (PTN) Yogyakarta.Proses mengadili tersangka sangat lama, dikarenakan ada seorang pelaku yang ayahnya salah satu Perwira Kepolisian di Yogya, dan mengintervensi persidangan.Yang membuat kami tak puas dengan proses hukum, tidak ada pemberitahuan jadwal persidangan dan kesaksian saksi yang mengatakan pelakunya lebih dari empat orang, tidak di gubris oleh kepolisian untuk meuntaskan kasus ini seadil-adilnya.Pada bulan Maret 2015, hasil persidangan di PTN Yogyakarta memutuskan para pelaku di jatuhi hukuman kurang delapan tahun.Pertanyaannya apakah saya, saudara dan kawan dari Alm.Fikar , akan membalas aksi kejahatan ini?, jawabannya tidak!.Saya dan kawan-kawan yang berasal dari Maluku Utara berstatmen:”Adili pelakunya sesusai hukum yang berlaku, hukum jangan pandang bulu”,pada aksi Anti-Diskriminasi, di PTN Yogyakarta sesaat sebelum pembacaan tuntutan.Saya dan kawan-kawan sadar, orang tua hanya menitipkan kami di Yogya ini hanya untuk kuliah:itu saja.Pembunuhan yang di alami Alm.Fikar, hanyalah musibah dari tuhan.
                                                                    *** 
    Apa bila saya di tanya, apakah anda pernah di rasis?. Jujur, kadang saya hanya diam dan menatap mata orang yang menanyakan hal tersebut.Masalah rasis, membawa kuliah saya hancur.Saya yang saat ini menjadi Mahasiswa Semeter tujuh ,di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fakultas Pertanian, sempat mengalami masa-masa suram.Hampir empat bulan saya tak mengikuti perkuliahan, karena depresi.Pada semeter empat yang lalu, Dosen di salah satu Jurusan saya Agribisnis, mengdiskriminasi saya dengan berkata:”Dasar timur, sifatnya jelek-jelek”.Kejadian ini bermula ketika saya membela sorang teman  baik saya- bernama Udin (Yogya), ketika ia di kritik habis-habisan oleh sang dosen dan kawan-kawan di kelas kulaih tersebut.Kejadian ini membuat saya merasa malu, dan tidak layak lagi berkuliah di UMY-Sampai saat ini saya masih tertekan, dan tidak masuk kampus.Apakah saya dendam dengan dosen yang mendiskrimiasikan saya?, jawabannya:Tidak.Saya terlalu banyak mengalami hal seperti ini.Apa bila dendam saya akan ‘mecelekai’ puluhan orang di Kota Yogyakarta ini.
 
   Stereotype atau stigmatisasi “Wong Timur” (Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua), adalah sumber ‘kejahatan dan keonaran’ di Yogyakarta, sudah masuk pada sesi akut.Banyak kawan-kawan saya Laki-laki maupun Perempun yang kulitnya condong Ras Malenesian yaitu hitam-kecoklatan dan berambut keriting, apa bila mencari kos-kosan atau kontrakan, sering di tanya:”wong Timur?, maaf.. kosannya sudah penuh”.Hal ini saya pun mengalaminya sendiri.


   Dalam penjelasan secara hukum, diskriminasi ras dan etnis adalah segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik,ekonomi,sosial dan budaya.

    Pandangan saya terhadap masalah diskriminatif ’Wong Timur’ ini, sebagai solusi nyata banyak saya sendiri dan kawan-kawan ‘Wong Timur’’ lainnya sudah perbuat.Misalkan pada sepanjang bulan Ramadhan kemarin kami dari Mahasiswa Maluku Utara, mengadakan pentas seni di Taman Batik, Jalan Malioboro.Dengan tujuan memperkuat silaturahmi di bulan Ramadhan dengan kesenian Qasidah dari Provinsi Maluku Utara.Adapun Hari ulang Tahun Kab.kep.Sula, yang saya dan teman-teman Sula, adakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Jalan Malioboro.Pada tanggal 6 juni, yang lalu.Dengan Tema “Manatol (Persaudaraan) dari Sula Untuk Indonesia”.Ivent ini di kunjungi sekitar 750 pengunjung.Di isi dengan- pementasan budaya, dan Teater dengan Naskah ‘’Fat Banas”, yang menceritakan kisah adu domba Portugis terhadap rakyat sula.Bernuansa kedaerahan, akan tetapi pesan dari acara ini adalah rasa cinta Kebihinekaan Tunggal Ika.Terakhir, pada tangggal 5 agustus kemarin, saya bersama kawan-kawan dari Front Mahasiswa Nasional (Fmn),Sekolah Bersama (Sekber), dan Mahasiswa Maluku Utara mengadakan Aksi Budaya menuntut Pemerintah Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) mennghentikan maraknya pembangunan hotel dan lindungi Petani kulon Progo dari serbuan pemodal.Beberap Ivent ini atas adalah sesuatu konkrit yang telah dilakukan, dengan tujuan menjunjung langit Yogyakarta bersama isinya.
  
   Untuk solusi kedepan, Sudah menjadi urgen seharusnya ada ruang dialog intens, antara perwakilan masyarakat Yogyakarta, Mahasiswa “Wong Timur”, Pemda, dan Pihak Keamanan.Ketika hal ini dilakukan akan lahir perbincangan yang isinya lintas budaya, antara warga Yogya dan ‘’Wong Timur’’.Karena menurut saya pribadi, salah satu faktor, rasisme lahir dikarenakan tidak ada komunikasi lintas budaya secara intens untuk membuka pemahaman terhadap cara menangani kasus rasial.Adapun cara pemerintah daerah dari berbagai latar belakang mahasiswa yang terksan, tidak memahami belajar di lingkungan masyrakat, sehingga di bangunlah Asrama-asrama Mahasiswa.Saya pribadi tidak menyetujui hal ini.Yogyakarta, adalah miniaturnya Indonesia.Apabila kita terkurung dalam lingkungan satu suku atau satu daerah saja, pemikiran kita akan sulit memaknai arti Kebhinekaan dalam bingkai hidup di Kota Yogyakarta.

  Tawaran khusus dari saya untuk Pihak Kepolisian DIY, harus bertindak tegas kepada siapapun pelaku yang mengganggu kenyamanan, dalam lingkungan masyarakat Yogyakarta.Usut provokator di balik akun sosial media, yang meberitakan kebohongan, yang seringkali mejadikan hal ini pemicu tidak harmonisnya masyarakat pribumi dan pendatang.
    
  Sebagai penutup, saya sedikit bercerita tentang kawan saya bernama Indra (Kepulauan Tidore), Mahasiswa UMY, yang pada desember tahun 2014 yang lalu, hilang  tertelan ombak di Pantai Bugel,Kab.Kulon Progo.Indra dan beberapa Kawan “Wong Timur” yang telibat dalam advokasi Petani di daerah tersebut.Sampai sekarang Indra belum di temukan.Apa yang kita petik dalam peristiwa hilangnya Indra?, kalau saya pribadi menganggap:tidak semua “Wong Timur” itu ‘perusuh’, banyak dari mereka yang melakukan kebaikan di kota Yogyakarta Ini.Terakhir dari saya, diantara “Wong Timur” yang baik pasti ada beberapa orang yang tidak baik, di antara “Wong Yogya”, yang baik pasti ada beberapa yang tidak baik.Jangan karena ulah seseorang kita memberi pelebelan tertentu kepada semua yang berkulit sama, dan berambut sama.Sejatinya tidak ada kata perbedaan antara yang dari Indonesia bagian timur dan yang asli Yogyakarta.Kita semua sama:di bawah payung Indonesia.]



_Essay Terbaik di Indonesia Youth Summit 2015, UGM.




Rabu, 21 Oktober 2015

Gelap Dinihari -Par Ayi Umasugi-
















Inilah gelap dinihari
Orang-orang menuju palung kabut kelam
Berbaris seperti barisan semut
Menuju gelap yang muram
Amat seram, mereka di telan pelan-pelan..

Sungguh malang apa yang kita saksikan..
Mencoba mengelak tapi gelap menyelam
Dengan senang hati menyerang
Hingga mata dan telinga
Kita sendiri bukan milik kita lagi
Lain dan selalu berpacu pada lain.

Ruang-ruang gelap
Waktu adalah ratap
 mengajak segala menjadi cepat
Agama dijadikan pelempiasan penuh hayalan
Tanpa melawan penindasan.

Tanah menjadi tempat penampungan darah dan nanah
Bukan lagi milik petani menanam dan memanen hasilnya
Teknologi menggergaji yang hakiki
Yang megah-megah di tapaki
Yang biasa sentosa di ludahi.
Yang leluhur
Di pasung tak luhur
Atas nama kultur yang harus seksi dan lentur.

Realitas pun di caci maki
Ah.. kudacuki!

Teriak para mahluk oportunis
Hanya bersuara dan memilih diam
Ketika muara nafas di redam

Kata sadis menembak
Seperti bom meriam yang menerjang
Pas di jantung.
Semua mahluk mati
Dan pesta gelap ramai berapi-api..

Kita selalu menemui kata luka dan duka.
Yang tulus telah retak:porak poranda!

Menepi adalah jalan menuju merdeka!
Mengukur seberapa besar mulut
Dari gelap yang menganga.
Berjanjilah:kita akan menyerangnya.

Idra, Yogyakarta 13/10/2015


Jumat, 02 Oktober 2015

Komunitas Sastra Serukan Kepedulian Hari Tani



Bertempat di Lobi Gedung D Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) beberapa komunitas sastra kompak menyuarakan kepedulian terhadap petani kepada civitas akademika pada Kamis, (1/10). Mereka adalah Rakyat Sastra, Forum Mahasiswa Pecinta Pena (FMPP), dan Sesenri. Kegiatan yang bertajuk "Refleksi Hari Tani" terbuka untuk umum dalam artian civitas akademika dipersilahkan untuk ikut menyerukan kepeduliannya kepada nasib petani. Aksi ini juga sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat Riau yang sedang berjuang melawan asap.

















Selain untuk memperingati Hari Tani yang jatuh pada 24 September 2015 dan aksi solidaritas terhadap asap yang terjadi di Riau, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menaikkan isu-isu nasional terkait dengan persoalan agraria. Persoalan mengenai agraria merupakan tanggungjawab semua elemen. Pemerintah turut andil dalam hal ini karena pemerintahlah yang memberikan kebijakan mekanisme agraria. Mahasiswa dalam hal ini harus mampu mengawasi dan memberikan perlindungan jika ada penindasan terhadap petani. Hal demikan tersirat dalam puisi yang dibacakan salah satu mahasiswa.

"Sastra bukan hanya sekedar sastra percintaan, tetapi sastra harus mampu sebagai pengetuk (suara) dan sebuah pemberontakan," ungkap Idra Faudu mahasiswa Fakultas Pertanian. Sastra sebagai hasil pola pikir estetika dalam bentuk kata, melalui sastra seseorang akan mampu meneriakkan kebenaran.

Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat kendala di tengah berlangsungnya acara yakni terputusnya saluran listrik namun tidak memadamkan antusiasme orator puisi dan civitas akademika yang tertarik dengan kegiatan tersebut. Hal tersebut semakin memotivasi orator puisi untuk lebih semangat dalam menyalurkan kepeduliannya. (SLS & KAF)
Sumber: LPPM Nuansa UMY :http://nuansa.persmahasiswa.org/2015/10/komunitas-sastra-serukan-kepedulian.html