Senin, 23 Februari 2015

Formasy Siap Go Nasional


       

Foto bersama Pengurus Formasy, Alumni, dan Sesepuh


 Forum Mahasiswa Sula Yogayakarta (FORMASY), telah melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) yang ke III. Berlangsung selama dua hari pembukaan pada hari minggu,(15/02) dan selasai pada Senin,(16/02), beretempat di Gedung Pemuda Ambarminangun,Tamantirto,Bantul.Dengan bertemakan “Mempererat Tali Silaturahim Dan Membangun Paradigma Berpikir Yang Berbudaya Manatol Untuk Indonesia”, pada perhelatan kali ini Formasy menyatakan siap go nasional dengan target 15 tahun lagi akan banyak kader formasy yang berkiprah di level nasional.

Dalam acara Mubes ini pula telah dideklarasikan ALMASY (Alumni Mahasiswa Sula Yogyakarta), yang bertujuan membangun ikatan manatol (persatuan) yang berkesinambungan antara mahasiswa sula yang telah selesai berkuliah di yogyakarta di seluruh indonesia guna membangun jaringan yang lebih kuat, terstuktur , dan sistematis yang di harapkan kedepannya menjadi fondasi membangun generasi sula untuk sejajar baik dari taraf intelektual , jaringan , financial dengan kaum bangsawan dan priayi di negeri ini.

Muhammad Ismul Umafagur S.Kom, dalam sambutannya sebagai Ketua Formasy De
misioner dan salah satu pendiri Formasy serta penggagas Almasy,ia menegaskan bahwa sudah lama generasi sula tidak berkiprah pada level nasional,”perlu di catatat, terakhir pemuda sula berkiprah di nasional adalah ketika salah satu tokoh sula yaitu, Ismail Digul bersama Muhammad Hatta di buang ke Boven Digul,Papua.Kemudian beberapa pemuda sula melahirakan singosari Argeement di Malang.Setelah itu, generasi sula tidak ada lagi yang mampu menembus level nasional.Oleh karena itu Formasy dan Almasy menjadi wadah yang menciptakan kader-kader sula baru yang mampu bersaiang di level nasional”.Tegasnya, Senin,(16/02).Sama halnya dengan sambutan Hasrul Buamona, SH.MH, yang juga merupakan salah satu pendiri Formasy dan Almasy, Hasrul menambahkan bahwa sejarah heroik nenek moyang masyarakat sula jangan hanya di jadikan sebagai sejarah akan tetapi harus menjadi penyemangat untuk berjuang.”Sejarah salahakang sula di masa lalu, jangan di masukan di dalam Saku celana, tapi simpanlah di dalam dada dan hati untuk di jadikan semangat”, tegasnya.

Hadir pula Sesepuh sekaligus Dewan Penasehat Formasy, Islamail Umamit SP, dan Amate Fokatea Spd.Dihadiri pula oleh Ikatan Mahasiswa Kie Raha Yogyakarta.Setelah melewati berbagai pembahasan dalam Musyawarah Besar, maka di hasilkan kepengerusan Formasy yang baru periode 2015-2015, Supriadi Umasangadji selaku Ketua Umum, Muhammad Idra Faudu sebagai Sekretaris Jendral,  Siti Hartina Umafagur, Bendahara I dan Iin Rahmayanti Soamole Bendahara II.

Muh.Idra Faudu-Formasy


Kamis, 15 Januari 2015

Lihatlah terlanjur sesat!!

_Afista Ahmadiyati_

Masihkah kau tegak berdiri??
Berdiri dengan gagah berani..
Membawa seonggok harapan yg tak pasti..
Membawa secuil kenangan pahit dijaman Yahudi..
Masihkah kau tegak berdiri??
Berdiri dengn gagah berani..
Melintasi dunia dan panggung sandiwara ini..
Yang sudah tak perduli terhadapmu lagi..
Namun satu hal yang pasti..
Kau adalah pemeran utama bukan pemeran penggati.

14/01/15.*hadiah*

Sabtu, 06 Desember 2014

Sajak Merindu



 Larut telah dingin
daur gelap membawa hening
menusuk di hati ku
yang kau taburi rindu

ah.. seduh keluh selalu
jika wajahmu merayu
ku sambut itu rindu
dan lama terpaku
sebab hati ini telah jadi babu di setiap bayang mu

mana kau tau
semua baur rindu/wajahmu
merayu ku selalu

dan kau tak pernah tau
jika derai wajah mu
yang hanyutkan puisi ini di sungai hayal
semesta tak menentu..

ah.. kau tak pernah tau
sebab kita terlampau jauh
di antara waktu yang tak pernah bersatu
sebab:rindu ini batu!
yang akan jadi hantu di matamu!

*Untuk SYU*. id/des/2014

Menanti Hati II


keluar jika malam ini berselera 
jalan atau kau lari:terserah!
itu api gairah merayal makna
di lorong gelap sana.

         * *
 jika ada cahaya cerah menuntun kau di luar sana
ajaklah jiwa ini bercurah
menikmati dingin
menyisir
kota jogja..

 id..

Kamis, 06 November 2014

Refleksi Hari pangan: “Dikalahkannya Masyarakat Pemakan Sagu”



“Bagi Orang yang berasal dari Maluku Utara, sagu adalah ‘penjelmaan dari seorang perempuan. Sehingga, jika ada orang yang akan mengolah, maka harus memohon terlebih dahulu kepada sosok di dalam pohon sagu”.

Bapak Dusun menirukan kalimat yang biasa diucapkan, “…kami mohon permisi mau menebangi anda. Kami menebang anda untuk memberi makan anak dan istri. Tolong berikan kepada kami isi sagu yang baik. Setelah itu, batang sagu baru bisa ditebang”.Ungkap Kepala Dusun Bula Air, Seram,Maluku Tengah.(Kutipan dari Tulisan ”Padi Ladang,Sagu dan Minyak Bumi”-Oleh Risman Buamona)

Sagu adalah tanaman endemik yang tumbuh bersama masyarakat indonesia timur.Dari sagu ini pula terbentuknya berbagai macam corak yang lahir bukan sebatas untuk di komsumsi akan tetapi melahirkan kebudayaan,tradisi,dan etika falsafah hubungan manusia dengan alam.Bisa di katakan bahwa sagu dan manusia yang memakannya adalah sebuah lingkaran besar saling berbagi satu sama lain.

Kedatangan bangsa-bangsa eropa di bumi putra memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap peta komuditi pangan.Faktor aroma tingginya harga  cengkeh dan pala adalah alasan  bendera portugis  berkibar di kawasan indonesia bagian timur yaitu kepulauan-kepulauan Maluku pada tahun 1550-an .Penjajahan dan monopoli hargapun dimulai dari sini.Selain perang dan pembantaian di Jazirah al-mulk (negeri para raja-raja), penebangan dan pembakaran pohon cengkeh dan pala di lakukan secara besar-besaran dari Pulau Banda Neira sampai di Pulau Halmahera. Alasan Portugis melakukan hal tersebut karena Belanda, Spanyol dan Inggris tidak mau kalah untuk mendapatkan emas hijau ini.

 Kemudian pada masa Belanda, bukan hanya cengkeh dan pala yang di ‘berhanguskan’, sagu sebagai makanan pokok  masyarakat indonesia bagian timur(NTT,Maluku,dan papua) ikut dalam kejahatan kolonial ini.Belanda lebih memilih beras dan perkebunan berskala besar untuk industri agar memberikan kuncuran dana besar kepada mereka dan negaranya.
Ketika memasuki era kemerdekaan, pemerintah indonesia langsung berkonsentrasi untuk membangun sektor pertanian di segala bidang mulai dari potensi laut hingga di daratan.Tak tanggung-tanggung program swasembada beras pun dicanangkan oleh presiden Ir. Soekarno tepatnya selama periode 1952-1956.Itulah sejarah awal bangsa ini mengenal kata swasembada beras.Pada masa itupula penjajahan lewat pangan kepada masyarakat Indonesia timur berlanjut ketika Soekarno memperlebar pola komsumsi dari awalnya beras di tambah jagung.Dengan alasan disversivikasi pangan hanya beras dan jagung yang menjadi konsentrasi pembangunan di bidang pangan. Sagu di abaikan, masyarakat Indonesia timur pun dilupakan!.

Untuk pertama kalinya juga, pemerintahan republik membentuk badan penyangga pangan yang di sebut Badan Urusan Logistik atau Bulog pada tanggal 14 Mei 1967.Tugas dari Bulog adalah sebagai agen pembeli beras tunggal.Berdirinya Bulog sejak awal di proyeksikan untuk menjaga ketahanan pangan indonesia melalui dua mekanisme yakni stabilitas harga beras dan pengadaan dana bulanan untuk PNS dan Militer.Pada prinsipnya, bulog nantinya akan menjadi lumbung nasional yang tugas utamanya untuk menjaga pasokan (supply) komoditi pangan dan menjaga stabilitas harga tanaman pangan utama. Selanjutnya akan Beta bahas penjajahan yang di lakukan Bulog.

Pada masa orde baru pembangunan di sektor pertanian tetap menjadi prioritas program kerja kabinet. Selama dua periode PELITA (Pembanguan Lima Tahun) dari tahun 1969-1979, kebijakan pembangunan lebih banyak dikonsentrasikan untuk basis sektor pertanian.Program revolusi hijau (green revolution) guna mendukung pencapaian swasembada beras pada tahun 1974.Pada tahun 1971,Bulog mendapatkan tugas baru, yaitu mempunyai peran sebagai badan resmi yang memonopoli pangan di dalam negeri.Segala hal yang di impor atau di ekspor di kendalikan secara penuh oleh bulog.Selain itu, Bulog adalah badan penyangga harga pangan.Ya,badan penyangga pangan.Disinilah cengkehpun kembali dijajah lewat monopoli harga.Pada masa keemasannya harga cengkeh berkisar Rp 200-500.000 / kg.Dengan harga yang tinggi inilah kemudian Soeharto memberi kewenangan kepada Badan Penyangga Harga pangan untuk menstandarisasi harga hingga harganya jatuh di bawah kisaran Rp.15.000/Kg.Ironis, ketika harga tersebut hanya di berlakukan hanya di dalam negeri.Ketika supply cengkeh masuk ke gudang Bulog, kemudian di ekspor ke luar negeri dengan harga sebelumnya Rp.500.000/Kg.

Belum selesai pada program Bulog,Soeharto kemudian berambisi untuk mempercepat Swasembada beras yang belum pernah di capai sejak masa kemerdekaan. Salah satunya mengadopsi program revolusi hijau tahun 1972.Sayangnya,program yang berbiaya mahal tersebut ternyata hanya menghasilkan Swasembada beras pada tahun 1984,1985, dan 1986 (berdasrkan laporan dari BPS). Sesudahnya Indonesia kembali menjadi pengimpor beras,bahkan pengimpor terbesar di Asia Tenggara.Program revolusi hijau ini pun hanya menguntungkan petani kaya atau pemilik lahan yang luas dan korporasi-korporasi besar (kapitalisme).

Tanaman padi di sosialisasi (bahkan di doktrin)di wilayah yang dianggap cocok untuk di tanami padi seperti di Sumatera,Kalimantan,Sulawesi,Maluku,NTT,NTB, bahkan sampai ke Papua.Dari sinilah lahirnya program pengusiran sebagian masyarakat ekonomi lemah yang ada di Jawa secara halus.Transmigrasi di berlakukan secara bertahap dimulai pada tahun 1970’an-hingga sekarang. Dengan program ini ribuan bahkan jutaan orang dari Jawa di sebarluaskan di daerah yang di targetkan tadi.Hasilnya ‘nihil’.Masalahpun bertambah panjang dengan lahirnya konflik antara warga Transmigran dan peduduk pribumi.Contonhnya di Lolobata, Halmahera Timur, dan Di Wamena, Papua. Selain itu Transmigrasi terkesan Jawanisasi, di karenakan pemaksaan untuk menanam padi di daerah yang tidak cocok di tanami,nama desa sebelumnya di ganti dengan nama ala Jawa, tindakan Rasis kepada suku-suku pribumi, dan lahirnya kesenjangan dengan ganas, di karenakan modal dari pemerintah untuk trasmigran di jadikan modal usaha untuk membangun perusahaan dan peluasan lahan secara besar-besaran.(cek modul “Ruang Hidup  Orang HALTIM yang di rebut” oleh Risman Buamona dkk).Sekali lagi program semacam ini menjajah masyarakat di Indonesia Bagian Timur!.Dengan ini sagupun secara perlahan tergusur di dapur  masyarakat indonesia timur.Budaya: “katong samua basudara’’pun mulai memudar.

Pada tahun 1995 kondisi keungan dalam negeri yang amblas membuat World Bank dan koleganya melihat celah.Dengan kondisi perekonomian indonesia yang semwraut,` Soeharto pun mengambil resiko, tak tanggung-tanggung kertas bukti ekonomi di liberalisasi di tandatangani oleh Soeharto.Penjajahan lewat kapital(modal) pun di lancarkan.Dampaknya adalah krisis moneter.
Memasuki masa-masa kepemimpinan selanjutnya, Pemerintah menarget Swasembada beras pada tahun 2014 ini, namun tak kunjung terwujud, bagaimana dengan sagu?. Adapun program dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Disversivikasi pangan. Akan tetapi di kelola oleh Korporasi sehingga berdirinya perusahaan sagu di Ambon dan Papua Barat.Hak petani untuk mengolah sagu pun di cabut!, keuntungan hanya di miliki perusahaan dan negara.Disisi lain manusia dan sagu akan tereksplotasi secara bersamaan.Pohon sagu di tebang untuk industri,sedangkan manusianya menjadi buruh yang murah.

Harga Sagu Rp.60.000/Tumang (karung), sedangkan beras ?.Inilah sepak terjang sagu sebagai panganan lokal masyarakat di bagian indonesia timur.Sagu dan manusia yang hidup dalam satu kesatuanpun di cabut secara paksa oleh ‘penguasa.’ Pada akhinya  ruang hidup manusia yang makan sagu di paksa untuk ‘kalah’secara politik,budaya,ekonomidan ekologi.Ketika ruang hidup telah hilang, yang ada hanya tubuh-tubuh yang berjalan pasrah (karena terjajah) di roda peradaban kekerasan zaman.Ditambahnya program MP3EI dan AEC 2015.Lahan sagu akan di ‘sulap’ menjadi gedung-gedung modern yang tinggi menjulang dan akan ada pembangunan tanpa berpikir adanya kerusakan ekologi.Bagaimana dengan nasib manusia yang makan sagu?.



Rabu, 29 Oktober 2014

Riwayat Tanah Air Beta (Untuk Indonesia dan Dunia)








ini tanah beta punya..ini air beta punya
tanah buat papa deng mama bikin kabong
tanah tampa tinggal katong
tanah tatanam beta pung pusa
tanah kase hidup bangsa dari dulu sampe lusa

air bikin beta hidop
air tanpa beta mandi
air kase beta ikan
air bikin beta barani!

ini carita beta masih kacil..
sakarang tanah rubah kulit
su seng ada kabong
ade kacil lapar manangis minta makan kasbi rabus
papa bilang su seng ada kabong mau makan apa....

minum air badan bagatal deng babatu
mandi air kali deng mandi air masing su seng lia ikan deng bia

Beta tanya, dimana TANAH AIR BETA?? Indonesia harus jawab itu!

Nyong Maluku,10/28/2014



Sabtu, 25 Oktober 2014

Siluet bercerita..

 P.krakal (yogya)

wai kalopa (sanana)


                       

Wai Kalopa (Sanana)

Pus.Pantai Karkal (yogya)

ni yang paling kreen.Yang sama aku namanya puput, dia
penikmat kata juga 'sastra'.Cuman dia udah nikah.. upss.Dia pengen cepat2 nikah sih..




Audy

Rhia


Bhoma,ecal,beta, deng kater