Kamis, 18 September 2014

Aku bermimipi kecil


                                                       











petani  akan di bunuh
Padi negeri  jadi babu
Sagu di larang tumbuh
Pohon-pohon layu dan roboh

Aku bermimpi kecil:
Desa hanya  jadi tempat rekreasi
Para Orang kota yang datang  bawa basa-basi ,
Mahasiswa berkunjung hanyalah atas nama surat instansi
kemudian kunjungan itu menjadi cerita dongeng ketika  pakai jas dan dasi,
Lapar seperti borjuasi, tak menampakan muka yang asli!!

Aku bermimpi kecil:
pertanian kurang diperhatikan
makanan import adalah bidikan untuk dimakan.
Penguasa berkata: “kerjakan ini sangatlah melelahkan.
Lahan di gusur perlahan-demi perlahan
Membangun gedung-gedung modern yang tak terkalahkan....
Ini mimpi kecil, aku dan kamu akan mimpi besar .....


Idra/2014, di bumi

Raja Selat















Siapa kuat ?
mari katong adu
Beta selat capalulu asal dari sula
Beta kuat tapi bukan batu
Beta taputar ini arus dunia: jang bilang beta hantu!

Tuan pelaut  yang barani
Beta arus bacabu maut!
Beta raja arus di antara mangole deng taliabu
Sapa mau ganggu? Beta sapu  rubu..

Id/22/08/14, di atas kapal KM.Agil Pratama, perjalanan sanana-ternate.

*Selat Capalulu memiliki arus terkuat ke 2 di dunia setelah segita bermuda

Selasa, 26 Agustus 2014

Senja Di Dua Hati


   apa itu jarak?
   apa itu waktu?
   apa itu bayangan semu?

   beta bataria tanya itu
   beta tau itu karas kaya batu
   tapi beta kikis deng katong pung senja di wai ipa


 iyo... senja seng haga: jarak,waktu, deng semu
 senja bisa kase batamu katong  dalam semesta kuning .......
 walaupun ose deng beta tapisa jau.

   id,kota gede/26/14.par ose di jazirah kie raha

Senin, 25 Agustus 2014

Hidup Di Atas Para-Para


kalapa su tua
papa banai di matahari tua
pohon tinggi: banai seng baku riki
seng pikir luka di tangan deng kaki
seng pikir badan badaki

kumpul kalapa papa bala taru di para-para
kalapa merah, papa pung muka panas bamerah

para-para jadi rumah kalapa
para-para tampa istrahat papa
para-para punya banyak cerita

karna para-para katong bisa sampe di orang pung tanah
karna parah-para katong bisa menuntut ilmu
hei...jang sampe katong lupa para-para deng papa(3x)
koi ta matalin para-para do baba.....

*Sebuah puisi yang di tulis Irwan Sangadji,y/826/14.

Rabu, 07 Mei 2014

Ironi Swasembada Pangan


                          
              Indonesia pernah membukukan sejarah kegemilangan prestasi swasembada pangan dengan kulminasinya berupa undangan Edouard Saoum (Direktur Jenderal FAO) kepada Presiden Soeharto untuk mengisahkan keberhasilan mencapai swasembada pangan tersebut (14 November 1985) di Roma.  Setelah itu, pewartaan tentang keberhasilan spektakuler pertanian nyaris senyap.Kini pemerintah indonesia menargetkan 2014 indonesia akan swasembada pangan.Dari lima target swasembada pangan yaitu, beras, kedelai ,daging, jagung, dan gula saat ini masih di gempur habis-habisan oleh produk asing.
  
   Tahun 2012 produksi beras mencapai 69,05 juta ton atau setara 40,05 juta ton beras. Sedangkan konsumsi beras rakyat Indonesia sekitar 139 kg per kapita per tahun atau total mencapai 34,04 juta ton per tahun, atau surplus hingga 6 juta ton. Demikian pula dengan tahun ini, pemerintah pun sebenarnya optimistis tidak lagi harus impor beras. Namun pada kenyataannya, Indonesia masih saja mengimpor beras dari negara-negara tetangga. berdasarkan data BPS, hingga pada Agustus 2013 saja, Indonesia sudah mengimpor beras hingga 35.818 ton dengan nilai US$19,132 juta, yang dipasok Vietnam, Thailand, Pakistan, India, dan Myanmar. Jika diakumulasikan dari Januari hingga Agustus 2013, beras yang masuk ke Indonesia mencapai 302.707 ton senilai US$156,332 juta. Jumlah impor beras ini diperkirakan mencapai 600 ribu ton tiap tahunnya. Produksi kedelai lokal sekarang baru 800 ribu ton. Sedangkan kebutuhannya sendiri sebanyak 2,5 juta ton akhirnya pemerintah  impor kedelai sebanyak 100 ribu ton.Dan kini tidak jarang, Indonesia sebagai negara agraris, harus mengimpor bahan pangan dari negara-negara lain.
  
   Sejarah mencatat Indonesia pernah mengalami masa swasembada pangan, khususnya beras, pada dekade 1980-an.Bahkan saat itu, Organisasi Pangan Dunia, FAO memberikan penghargaan istimewa kepada pemerintah atas prestasi luar biasa ini.Namun, bertahun-tahun sesudah itu prestasi swasembada beras nampaknya sulit terulang bahkan tidak jarang Indonesia harus mengimpor beras dari negara tetangga, misalnya Thailand dan Vietnam.Selama beberapa tahun terakhir, masalah ketahanan pangan menjadi masalah penting di Indonesia.Sejumlah pengamat mengatakan akibat persediaan yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan, diperkirakan akan menembus tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Masalah Lahan
   Saat ini, konversi lahan pertanian telah mencapai 100.000 ha per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lahan baru hanya maksimal 30.000 ha, sehingga setiap tahun justru terjadi pengurangan lahan pertanian.

 Sistem ekonomi Yang Liberal
  Salah satu masalah utama lemahnya produksi pertanian di negeri ini adalah sistem ekonomi yang liberal sehingga importir dari luar negeri masuk tanpa perdulikan produk di dalam negeri .sehingga, walaupun negeri ini dalam kedaan kecukupan akan tetapi import terus berjalan.Di sisi lain, ekspolitasi lahan pertanian terus berjalan karena pemerintah mendukung investasi di setiap daerah tanpa mengontrol.

Kurangnya SDM
   Dalam 9 tahun terakhir  ini saja, jumlah petani berkurang sekitar 14 juta. Tahun ini, petani di Indonesia tinggal 26,1 juta orang.Beberapa faktor utamanya adalah, tergusurnya lahan yang petani miliki, tidak adanya regenerasi petani, dan yang bekerja di dunia pertanian saat ini adalah orang-orang yang hanya lulusan SD,SMP dan lulusan SMA masih minim apalagi yang sarjana? Lihat saja di setiap aktivitas pertanian telah jarang seorang penyuluh pertanian yang berikan penyuluhan langsung ke lapangan.

Minimnya Dana
    Sekarang ini anggaran di sektor pertanian tidak terlalu besar. Untuk APBN terakhir hanya sebesar Rp 9 triliun.Untuk mencapai negara yang pertaniaannya kuat dana tersebut tidaklah cukup, karna mengingat negara ini adalah negara kepulauan dan untuk penyaluran barang logistik, pembiayayaan penyuluh, pembelian benih, dan subsidi untuk petani memerlukan dana yang besar.

  Swasembada pangan tidak akan pernah kehilangan aktualitasnya karena persoalan ini terus menjadi perhatian sekaligus keprihatinan kalangan internasional maupun lokal.Perlu kita sadari bahwa negara yang tidak memiliki ketahanan pangan yang kuat, tidak mungkin menjadi sebuah negara yang benar-benar berdaulat.Negara ini terus mengidap persoalan keterbatasan jumlah pasokan yang membuat harga pangan makin tidak terjangkau hingga ketergantungan impor. Kondisi ini kemudian diperburuk dengan koordinasi antarpemerintah yang buruk, bahkan muncul adanya pratik kartel hingga mafia dalam mengatur harga dan pasokan pangan tertentu.Pertannyaannya adalah apakah bangsa ini bisa berswsembada pangan seperti di tahun 1985???.(id).
                                                     (Berbagai Sumber).

Senin, 28 April 2014

"Ada"



   ilusi berkata: "bola mataku ingin mencumbui bola matamu, tapi di dunia yg lain:tak ada cerita lain, hanya cerita ini".
_sabar ba sapu dada, angin bawa kabar kalo beta ingin "ADA"_
id/2014

Kamis, 24 April 2014

Wajah Pertanian Indonesia



  
    Pertanian indonesia  telah memasuki masa krisis.Tanah sebagai hak hidup untuk menanam di rampas dengan semena-mena oleh perusahaan berkorporat ;investor,pemerintah,militer bahkan kesultanan.konflik agraria yang berakhir dengan putusnya nyawa tak bisa dihindari di seluruh daerah di negeri ini.
  
Seperti yang terjadi di dekat kita kawasan petani pesisir kab.kulon progo .Lahan petani di alih fungsikan  menjadi tambang pasir besi oleh Perusahaan milik “keluarga keraton Yogya kemudian berkongsi dengan Indo Mines Ltd. dari Perth, Australia Barat, menjadi PT Jogja Magasa Iron (JMI), yang berencana menambang pasir besi di pantai Kulon Progo sepanjang 22 Km, mengolahnya menjadi pig iron dan mengekspornya ke Australia. Tak lama setelah Sultan menyatakan siap jadi calon presiden, pemerintah dan PT JMI menandatangani kontrak karya pertambangan pasir besi di Pantai Bugel, Kulonprogo, selama 30 tahun”, (Koran Tempo, 12/11/2008).

  Petani telah turun ke jalan dan melakukan aksi penolakan selama beberpa tahun terakhir. Akan tetapi pihak korporasi seolah menutup telinga dan melakukan penagkapan secara ilegal untuk tokoh yang sangat berpengaruh dalam lingkungan masyrakat petani lahan pesisir tersebut.Seperti yang di alami Tukijo, seorang petani yang di tangkap secara paksa  tanpa alasan ataupun landasan hukum yang jelas Dari kepolisian maupun PT JMI.Dari hal ini kita dapat melihat dengan jelas bagaimana ‘’kebuasan’’ penegak hukum,korporasi,maupun pihak kesultanan, tidak segan-segan melancarkan berbagai tindakan seperti perampok yang ingin mengincar apa yang ia ingin rampok.

 Terlepas dari masalah di atas , di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini khusunya di bidang pertanian peran pemerintah sebagai pemegang kuasa dalam pengambilan keputusan mulai dari pusat hingga di berbagai daerah mengeluarkan kebijakan atau aturan-aturan yang mempersudut petani dan ruang geraknya untuk beraktivitas secara normal yaitu bertani.Kasus terbaru adalah tergabungnya indonesia sebagai anggota AEC (Asean Economi Comunity) menandakan nasib petani di negeri ini ibarat seperti anak SD yang di    kasih materi SMA oleh guru, padahal secara kemampuan dan daya pikir tidaklah mungkin anak SD dapat menerima apa yang di ajarkan di SMA, seperti halnya dengan kualitas SDM (sumber daya manusia) petani indonesia yang masih di bawah rata-rata di karenakan yang dominan adalah berlatar belakang lulusan SD dan SMP tidaklah mungkin bersaing di AEC yang notabenenya pasar bebas (free market) yang menunutut seorang pelaku usaha harus berkompetisi “ melawan’’ pelaku usaha lainnya yang bukan hanya di dalam negeri.
   
 Memang jelas 30 tahun terakhir ini indonesia tak berdaya membentengi diri untuk menghadapi arus globalisasi  berwatak kapitalisme dan liberalisme yang sistemnya membebaskan sesorang atau negaranya meraup keuntungan dari sebuah negara berkembang yang kaya akan SDA secara  ganas tanpa melihat keberlangsunag hidup atau kedaulatan negara yang di jajah.
  
  Inilah wajah pertanian indonesia dalam konteks kekinian.akankah pertanian indonesia   berjaya  dengan mengndalkan tanah yang luas, dan kualitas SDM yang mapan?.


   “Masalah pangan adalah masalah bangsa, sebelum perut di isi pasir dan  batu: Mari kita selesaikan secara anarki melawan kekuasan tirani”
                                                   _SUARA MAS CANGKUL_