Senin, 25 Agustus 2014
Hidup Di Atas Para-Para
kalapa su tua
papa banai di matahari tua
pohon tinggi: banai seng baku riki
seng pikir luka di tangan deng kaki
seng pikir badan badaki
kumpul kalapa papa bala taru di para-para
kalapa merah, papa pung muka panas bamerah
para-para jadi rumah kalapa
para-para tampa istrahat papa
para-para punya banyak cerita
karna para-para katong bisa sampe di orang pung tanah
karna parah-para katong bisa menuntut ilmu
hei...jang sampe katong lupa para-para deng papa(3x)
koi ta matalin para-para do baba.....
*Sebuah puisi yang di tulis Irwan Sangadji,y/826/14.
Rabu, 07 Mei 2014
Ironi Swasembada Pangan
Indonesia pernah membukukan sejarah
kegemilangan prestasi swasembada pangan dengan kulminasinya berupa undangan
Edouard Saoum (Direktur Jenderal FAO) kepada Presiden Soeharto untuk
mengisahkan keberhasilan mencapai swasembada pangan tersebut (14 November 1985)
di Roma. Setelah itu, pewartaan tentang
keberhasilan spektakuler pertanian nyaris senyap.Kini pemerintah indonesia
menargetkan 2014 indonesia akan swasembada pangan.Dari lima target swasembada
pangan yaitu, beras, kedelai ,daging, jagung, dan gula saat ini masih di gempur
habis-habisan oleh produk asing.
Tahun
2012 produksi beras mencapai 69,05 juta ton atau setara 40,05 juta ton beras.
Sedangkan konsumsi beras rakyat Indonesia sekitar 139 kg per kapita per tahun
atau total mencapai 34,04 juta ton per tahun, atau surplus hingga 6 juta ton.
Demikian
pula dengan tahun ini, pemerintah pun sebenarnya optimistis tidak lagi harus
impor beras. Namun pada kenyataannya, Indonesia masih saja mengimpor beras dari
negara-negara tetangga. berdasarkan
data BPS, hingga pada Agustus 2013 saja, Indonesia sudah mengimpor beras hingga
35.818 ton dengan nilai US$19,132 juta, yang dipasok Vietnam, Thailand,
Pakistan, India, dan Myanmar. Jika diakumulasikan dari Januari hingga Agustus
2013, beras yang masuk ke Indonesia mencapai 302.707 ton senilai US$156,332
juta. Jumlah impor beras ini diperkirakan mencapai 600 ribu ton tiap tahunnya. Produksi kedelai lokal sekarang baru 800 ribu ton. Sedangkan
kebutuhannya sendiri sebanyak 2,5 juta ton akhirnya pemerintah impor kedelai sebanyak 100 ribu ton.Dan kini
tidak jarang, Indonesia sebagai negara agraris, harus mengimpor bahan pangan
dari negara-negara lain.
Sejarah mencatat Indonesia pernah mengalami masa swasembada pangan,
khususnya beras, pada dekade 1980-an.Bahkan saat itu, Organisasi Pangan Dunia,
FAO memberikan penghargaan istimewa kepada pemerintah atas prestasi luar biasa
ini.Namun, bertahun-tahun sesudah itu prestasi swasembada beras nampaknya sulit
terulang bahkan tidak jarang Indonesia harus mengimpor beras dari negara
tetangga, misalnya Thailand dan Vietnam.Selama beberapa tahun terakhir, masalah
ketahanan pangan menjadi masalah penting di Indonesia.Sejumlah pengamat
mengatakan akibat persediaan yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan,
diperkirakan akan menembus tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Masalah Lahan
Saat ini, konversi lahan
pertanian telah mencapai 100.000 ha per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah
dalam menciptakan lahan baru hanya maksimal 30.000 ha, sehingga setiap tahun
justru terjadi pengurangan lahan pertanian.
Sistem ekonomi Yang
Liberal
Salah
satu masalah utama lemahnya produksi pertanian di negeri ini adalah sistem
ekonomi yang liberal sehingga importir dari luar negeri masuk tanpa perdulikan
produk di dalam negeri .sehingga, walaupun negeri ini dalam kedaan kecukupan
akan tetapi import terus berjalan.Di sisi lain, ekspolitasi lahan pertanian
terus berjalan karena pemerintah mendukung investasi di setiap daerah tanpa
mengontrol.
Kurangnya SDM
Dalam 9 tahun terakhir ini saja,
jumlah petani berkurang sekitar 14 juta. Tahun ini, petani di Indonesia tinggal
26,1 juta orang.Beberapa faktor utamanya adalah, tergusurnya lahan yang petani
miliki, tidak adanya regenerasi petani, dan yang bekerja di dunia pertanian
saat ini adalah orang-orang yang hanya lulusan SD,SMP dan lulusan SMA masih
minim apalagi yang sarjana? Lihat saja di setiap aktivitas pertanian telah
jarang seorang penyuluh pertanian yang berikan penyuluhan langsung ke lapangan.
Minimnya Dana
Sekarang ini anggaran di sektor pertanian tidak terlalu besar. Untuk
APBN terakhir hanya sebesar Rp 9 triliun.Untuk mencapai negara yang
pertaniaannya kuat dana tersebut tidaklah cukup, karna mengingat negara ini
adalah negara kepulauan dan untuk penyaluran barang logistik, pembiayayaan
penyuluh, pembelian benih, dan subsidi untuk petani memerlukan dana yang besar.
Swasembada pangan tidak akan pernah kehilangan aktualitasnya karena
persoalan ini terus menjadi perhatian sekaligus keprihatinan kalangan
internasional maupun lokal.Perlu kita sadari bahwa negara yang tidak memiliki
ketahanan pangan yang kuat, tidak mungkin menjadi sebuah negara yang
benar-benar berdaulat.Negara ini terus mengidap persoalan keterbatasan jumlah
pasokan yang membuat harga pangan makin tidak terjangkau hingga ketergantungan
impor. Kondisi ini kemudian diperburuk dengan koordinasi antarpemerintah yang
buruk, bahkan muncul adanya pratik kartel hingga mafia dalam mengatur harga dan
pasokan pangan tertentu.Pertannyaannya adalah apakah bangsa ini bisa
berswsembada pangan seperti di tahun 1985???.(id).
(Berbagai Sumber).
Senin, 28 April 2014
"Ada"
ilusi berkata: "bola mataku ingin mencumbui bola matamu, tapi di dunia yg lain:tak ada cerita lain, hanya cerita ini".
_sabar ba sapu dada, angin bawa kabar kalo beta ingin "ADA"_
id/2014
Kamis, 24 April 2014
Wajah Pertanian Indonesia
Pertanian indonesia telah memasuki masa krisis.Tanah sebagai hak
hidup untuk menanam di rampas dengan semena-mena oleh perusahaan berkorporat ;investor,pemerintah,militer
bahkan kesultanan.konflik agraria yang berakhir dengan putusnya nyawa tak bisa
dihindari di seluruh daerah di negeri ini.
Seperti yang terjadi di dekat kita kawasan petani pesisir kab.kulon progo .Lahan petani di alih fungsikan menjadi tambang pasir besi oleh Perusahaan milik “keluarga keraton Yogya kemudian berkongsi dengan Indo Mines Ltd. dari Perth, Australia Barat, menjadi PT Jogja Magasa Iron (JMI), yang berencana menambang pasir besi di pantai Kulon Progo sepanjang 22 Km, mengolahnya menjadi pig iron dan mengekspornya ke Australia. Tak lama setelah Sultan menyatakan siap jadi calon presiden, pemerintah dan PT JMI menandatangani kontrak karya pertambangan pasir besi di Pantai Bugel, Kulonprogo, selama 30 tahun”, (Koran Tempo, 12/11/2008).
Petani telah turun ke jalan dan melakukan aksi penolakan
selama beberpa tahun terakhir. Akan tetapi pihak korporasi seolah menutup
telinga dan melakukan penagkapan secara ilegal untuk tokoh yang sangat
berpengaruh dalam lingkungan masyrakat petani lahan pesisir tersebut.Seperti
yang di alami Tukijo, seorang petani yang di tangkap secara paksa tanpa alasan ataupun landasan hukum yang jelas
Dari kepolisian maupun PT JMI.Dari hal ini kita dapat melihat dengan jelas
bagaimana ‘’kebuasan’’ penegak hukum,korporasi,maupun pihak kesultanan, tidak
segan-segan melancarkan berbagai tindakan seperti perampok yang ingin mengincar
apa yang ia ingin rampok.
Terlepas dari masalah
di atas , di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini khusunya di bidang
pertanian peran pemerintah sebagai pemegang kuasa dalam pengambilan keputusan
mulai dari pusat hingga di berbagai daerah mengeluarkan kebijakan atau
aturan-aturan yang mempersudut petani dan ruang geraknya untuk beraktivitas
secara normal yaitu bertani.Kasus terbaru adalah tergabungnya indonesia sebagai
anggota AEC (Asean Economi Comunity) menandakan nasib petani di negeri ini
ibarat seperti anak SD yang di kasih
materi SMA oleh guru, padahal secara kemampuan dan daya pikir tidaklah mungkin
anak SD dapat menerima apa yang di ajarkan di SMA, seperti halnya dengan
kualitas SDM (sumber daya manusia) petani indonesia yang masih di bawah
rata-rata di karenakan yang dominan adalah berlatar belakang lulusan SD dan SMP
tidaklah mungkin bersaing di AEC yang notabenenya pasar bebas (free market)
yang menunutut seorang pelaku usaha harus berkompetisi “ melawan’’ pelaku usaha
lainnya yang bukan hanya di dalam negeri.
Memang jelas 30 tahun terakhir ini indonesia tak berdaya membentengi diri untuk menghadapi arus globalisasi berwatak kapitalisme dan liberalisme yang sistemnya membebaskan sesorang atau negaranya meraup keuntungan dari sebuah negara berkembang yang kaya akan SDA secara ganas tanpa melihat keberlangsunag hidup atau kedaulatan negara yang di jajah.
Inilah wajah pertanian indonesia dalam konteks kekinian.akankah pertanian indonesia berjaya dengan mengndalkan tanah yang luas, dan kualitas SDM yang mapan?.
“Masalah pangan adalah masalah bangsa, sebelum perut di isi pasir dan batu: Mari kita selesaikan secara anarki
melawan kekuasan tirani”
_SUARA MAS CANGKUL_
Minggu, 23 Maret 2014
Senin, 10 Maret 2014
Timnas U 23 Vs Malaysia U-21
Bersama, iksanul,aji dan ungkai.ST.Maguoharjo,rabu (5/03/14)
Rizki Pellu, Bayu Gatra, dan Rasyd Bakrie tampil dengan permainan terbaik pada malam itu, alahasil Timnas U 23 berhasil mebekuk Malaysia U 21 dengan skor telak 3-0.
Indonesia....! Indonesia...! Indonesia...!
Suara Suporter bergemuru dalam Stadion Maguoharjo,Sleman.Malam itu Timnas U 23 melawan Timnas Malaysia U 21.Laga yang sangat 'angker' menurut para suporter indonesia, karena tetangga 'bengal' ini telah mengalahkan Timnas kita di berbagagi ajang.Bukan hanya di dalam lapangan para pemain dari kedua negara saling terlibat permainan keras, di luar lapanganpun suporter membuat laga tersebut seperti bertanding dalam 'api neraka'.
Rizki Pellu, Bayu Gatra, dan Rasyd Bakrie tampil dengan permainan terbaik pada malam itu, alahasil Timnas U 23 berhasil mebekuk Malaysia U 21 dengan skor telak 3-0.
Suasana di berbagai tribun menjadi memanas menjelang akhir laga.Aksi pelemparan terhadap pemain Malaysia tak terelakan, mercun dan kembang api menyala seperti petanda malam ini kita akan berpesta, ya berpesta.Kertas berwarna hitam,merah dan putih mulai diangkat dan berbentuk INA, inilah aksi kreativitas dari suporter yang bernama BCS (Brigata Curva Sud).
"padamu.. Negeri Kami berbakti, padamu Negeri kami berjanji..."
Nyanyian inilah yang menegringi berakhirnya laga tersebut..
Nyanyian inilah yang menegringi berakhirnya laga tersebut..
-"Sesungguhnya suara itu tidak bisa di redam, mulut bisa di bungkam tapi siapa bisa menghentikan"-
.Wiji Thukul.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)